Selasa, 21 Agustus 2012

Surat dari AYAH TUK anaknya

Sepucuk Surat dari Seorang Ayah
 Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. 
Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki;
 surat seorang ayah kepada seorang ayah. Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui. Nak, menjadi

Senin, 13 Agustus 2012

BeritA KEMATIAN

Sebenarnya, ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. karena aku tau bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya. dan kematian adalah sesuatu yang pasti. Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja. lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati. hatiku seperti tak ditempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanyaseperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang. Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang. tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. mana mungkin aku setia, padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini. Selamat jalan, Kau dariNYA, dan kembalipadaNYa Kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan Sayang, Cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku…..

Puisi Cinta

ketika aku mulai bisa mengerti aku pun akan terus bertanya mengapa aku begini, mengapa dia begitu, mengapa mereka seperti itu aku tahu ini akan berbeda tapi aku sungguh tidak ingin membuat semua ini menjadi berbeda aku terus mencoba untuk terus memegangnya hingga aku tak kuat lag, lepas dan terurai aku melihat ia jatuh lunglai dan terkapar aku mendengar dia menjerit dan menangis dan akupun juga mendengar dia tertawa, terbahak, dan melebarkan senyum gilanya dan berkata aku adalah aku, bukan dia, bukan pula mereka aku hidup dalam duniaku, bukan dunia dia, ataupun dunia mereka inilah aku dengan segala yang ada pada diriku hitam putih gelap terang adalah diriku